Filosofi Mudik : Mudik Sama Pulang Kampung Beda Atau Sama?
Mudik artinya adalah suatu kejadian sosial, dia juga bisa dilihat sebagai kejadian pendidikan, dia bukan proses terencana, namun bisa menjadi kejadian yang didalamnya ada internalisasi, sosialisasi nilai-nilai tertentu yang diwariskan masyarakat pada generasi penerus.
BACA JUGA : Salah Paham, Kisah Pengambil Kue
Setiap masyarakat atau bangsa akan selalu berusaha mempertahankan diri dalam identitas sosial budaya tertentu dan mem propagandakannya untuk dapat diikuti, ditiru oleh budaya lain melalui berbagai cara dan dalam berbagai bidang kehidupan serta dalam semua unsurnya.
Mudik artinya adalah suatu kejadian sosial, dia juga bisa dilihat sebagai
kejadian pendidikan, dia bukan proses terencana, namun bisa menjadi kejadian
yang didalamnya ada internalisasi, sosialisasi nilai-nilai tertentu yang
diwariskan masyarakat pada generasi penerus.
BACA JUGA : Melipatkan Rezeki
BACA JUGA : Salah Paham, Kisah Pengambil Kue
Setiap masyarakat atau bangsa akan selalu berusaha mempertahankan diri
dalam identitas sosial budaya tertentu dan mem propagandakannya untuk dapat
diikuti, ditiru oleh budaya lain melalui berbagai cara dan dalam berbagai
bidang kehidupan serta dalam semua unsurnya.
Dalam konteks ini mudik terkait dengan idul fitri (lebaran), merupakan
contoh menarik penyucian budaya melalui pengaitan dengan nilai Agama. Ini
merupakan kejadian pendidikan dalam model sosialisasi nilai-nilai dalam simbol
mudik. Tak diragukan lagi bahwa tak satupun ajaran islam yang menyatakan
wajibnya mudik atau memandang bagian dari ajaran islam.
Namun di dalamnya terselip atau tercakup nilai silaturahmi, hormat orang
tua dan kedermawanan dengan berbagi rezeki dengan keluarga, masyarakat yang
telah mengeluarkan energi besar untuk tumbuh kembangnya Kita, saya anda kami
kamu dan kita semua.
Jika mereka mudik berarti keterikatan akan daerah yang membesarkan jadi
terhubungkan dan ini menghindari manusia dari “hilap kana purwadaksina”,
sebab kultur barat yang egosentris cenderung melihat hubungan manusia dengan
manusia transaksional bahkan pada orang tua sendiri cenderung hubungan
“keingatan” bersifat materialistik, padahal kehadiran adalah sesuatu yang tak
bisa tergantikan.
BACA JUGA : Mendekatkan Jodoh
Ditengah pragmatisme dan pemujaan efisiensi, mudik jadi gambaran bagaimana
pengorbanan besar jadi sikap dan prilaku masyarakat untuk mencapai nilai-nilai
perenial kemanusiaan. Manusia jadi sadar akan horizon waktu kehidupan, memberi
makna padanya adalah esensi kemanusiaan, sagregasi, stratifikasi sosial karna
pekerjaan, pendidikan dan kapasitas ekonomi lebur dalam kesatuan kemanusiaan,
saya dan anda jadi kita, jadi kami, lem perekat kohesivitas sosial dalam dan
antar keluarga serta masyarakat makin terbangun kuat betapapun nanti berpisah
lagi namun lem itu akan selalu menariknya kembali untuk memberi perekat.
Ketika manusia lebih memikirkan saat ini dan masa depan hidup dan
kehidupan, dia diingatkan akan masa lalu yang telah memberi makna pada kehidupan
kita, memberi fondasi nilai prilaku kini dan memurnikan menguatkan harapan masa
depan (bila gunakan istilah Dilthey, filsuf jerman), semua makna dan nilai itu
jadi bentuk pemotivasian sosial untuk berjuang dan kembali.
Ketika lokasi tinggal telah jadi alat stratifikasi sosial, maka Mudik
menyatukannya, ketika ekonomi jadi alat stratifikasi sosial, maka mudik
menguranginya, ketika pendidikan jadi alat stratifikasi sosial, maka mudik
menyambungkannya.
Ketika kita lebih sering bicara “hidupku-hidupmu”, Mudik
menjadikannya semua adalah “hidup kita, hidup kami” (Gotong
royong), mudik memang bisa jadi obat egoisme, individualisme, dan keterasingan
hidup di perkotaan dan diperantauan, dia membangun ke”kita”an dan memperkuat
kebersamaan, dia membanguan ke”ingat”an dan memperkuat per”saudara”an, dan
tentu banyak lagi nilai yg bisa digali dari fenomena Mudik (mungkin perlu buku
khusus untuk menulisnya),
sehingga alangkah bodohnya kita jika masih bertanya “Untuk Apa” “Kacape
Cape”, “Nanahaan”, mudik kan bisa kapan saja!!.
Nah yang begini tidak faham
Momentum, sebagai kesadaran sosial, dan idul fitri dg mudiknya telah
terekontruksi kuat dalam budaya kita dengan nilai-nilai keagamaan di dalamnya,
siapapun yg menghalanginya termasuk pemerintah akan kalah, daripada kalah lebih
baik berilah, perbaikilah terus fasilitas mudik, bantulah terus masyarakat
untuk dengan aman nyaman Mudik, selamat Mudik dan semoga selamat kembali ke
tempat masing-masing dengan semangat dan motivasi yang terbarukan dan
tercerahkan.
BACA JUGA : Cari Uang Dengan Cara Simple
