-->

Membaca "SAMPAR" Dalam Suasana COVID-19




Viewriter- "Sampar" adalah suatu novel karya Albert Camus, seorang sastrawan sekaligus filsuf Prancis kelahiran Aljazair. "Sampar" pertama kali terbit tahun 1947 di Prancis dengan judul La Peste. Dan tahun 1957, Camus dikarunia Hadiah Nobel untuk novel ini. Adapun edisi Indonesia novel ini adalah terjemahan hasil jerih payah dari almarhumah Nh. Dini, sastrawan Indonesia asal Semarang, Jawa Tengah.

"Sampar" bercerita tentang kota Oran, suatu kota di Aljazair, yang dilanda wabah sampar tahun 1940an. Konon, wabah sampar dalam novel ini sesungguhnya adalah simbolisasi munculnya regim Nazi-nya Adolf Hittler di Eropa tahun 1940an.

Novel ini pertama kali saya baca ketika saya duduk di bangku SMA saat saya sedang tertarik dengan filsafat eksistensialisme sehabis membaca buku karya Prof. Dr. Fuad Hassan (guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang kemudian menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI): "Berkenalan Dengan Eksistensialisme" terbitan Pustaka Jaya, Jakarta.

Dengan kata lain, saat itu, saya menikmati novel "Sampar" sebagai karya sastra dalam khasanah filsafat eksistensialisme, sebagaimana halnya dengan novel "Orang Asing"  (L’Étranger) juga karya Albert Camus. Kita tahu, filsafat eksistensialisme berkutat dengan absurditas kehidupan manusia: kehidupan manusia itu pada dasarnya absurd alias tidak masuk akal! Dalam konteks filsafat eksistensialisme-lah saat itu saya memahami hinggapnya wabah sampar di kota Oran, ketidak-siapan dan keterlambatan pemerintah kota Oran dalam merespons wabah sampar, serta alotnya sikap pemerintah kota Oran untuk menerima relevansi pemberlakuam kebijakan penutupan (lock-down) atas kota Oran.

Kini, ketika Covid-19 menyerang Indonesia, saya berusaha membaca kembali "Sampar". Barangkali suasana sosio-psikologis yang berbeda mengakibatkan penghayatan saya agak berbeda kini dibandingkan ketika beberapa kali saya membacanya di waktu-waktu yang lampau. Terus terang, ada kalanya saya agak bergidik sehingga saya memutuskan untuk berhenti dulu membacanya dan melanjutkannya beberapa hari kemudian. Artinya, ada suasana kebatinan yang baru yang saya alami kini ketika membaca "Sampar" dalam suasana gempuran Covid-19: suasana tak berdaya, lumpuhnya akal, dan sejumlah tanya tentang mengapa dan bagaimana yang tak kunjung ketemu jawabannya... Ada sejumlah detail yang lebih mampu saya tangkap kini: dedikasi dr. Bernard Rieux yang tanpa syarat dan tanpa batas; munculnya orang-orang oportunis, orang-orang yang berusaha mencuri panggung hendak menjadi super hero, orang-orang sok kuasa di tengah gempuran wabah, dan birokrasi yang sulit diajak bergerak cepat...

Salah satu yang menarik perhatian saya kali ini adalah sikap Pastur Paneloux terhadap wabah sampar di kota Oran saat itu. Pada awal kota Oran diserang wabah sampar, Pastur Paneloux membuka khotbahnya dengan mengatakan: "Saudara-saudaraku! Bencana mencengkeram kota kita karena memang sepantasnya Anda sekalian mendapatkannya!" Pembukaan khotbah yang tentu saja mengagetkan warga kota Oran. Pastur Paneloux melanjutkan khotbahnya: "Sejak permulaan sejarah dunia, bencana Tuhan mengalahkan orang-orang angkuh dan buta terhadap ajaran-Nya. Renungkanlah itu baik-baik serta berlututlah!" Lebih jauh Sang Pastur menandaskan "Kalau hari ini penyakit sampar memilih Anda, itu berarti bahwa saat merenung telah tiba. Mereka yang baik tidak perlu takut kepadany. Tetapi mereka yang jahat, patutlah jika mereka gemetar! ....Sudah terlalu lama dunia ini bekerja sama dengan kejahatan;..."

Akan tetapi sejak melihat sekaratnya seorang bocah, putranya Pak Jaksa Othon, Sang Pastur ternyata berubah. Tidak hanya wajahnya yang mulai terlihat tertekan, tetapi kutbahnya juga berubah... "Kita tidak perlu mengerti kejadian yang ditimbulkan sampar, tetapi kita harus berusaha menarik pelajaran darinya." Di akhir khotbahnya kali ini Pastur Paneloux berkata: "Saudara-saudaraku! Cinta Tuhan adalah cinta yang sukar. Dia mengharapkan kepasrahan pribadi yang mutlak dan peniadaan kepentingan diri. ..." Demikian kotbahnya setelah menyaksikan kematian bocah itu.

Wabah sampar memang pada akhirnya berakhir dan lockdown kota Oran pun buka kembali. Akan tetapi, sampar telah menanamkan rasa tidak percaya diri di hati penduduk kota Oran. Semua orang di kota itu sependapat bahwa kepraktisan hidup yang telah lewat tidak akan kembali secara tiba-tiba, dan bahwa lebih mudah merusak daripada membangun kembali.

Dalam perenungannya, dr. Bernard Rieux yang sesungguhnya tidak perduli dengan agama berpikir bahwa agama pada masa epidemi sampar tidak bisa sama seperti agama di waktu-waktu normal. dan, derita, kemalangan serta pengalaman eksitensial lainnya hanya akan bermakna jika hal itu berhasil memperkaya pemahaman kita tentang hidup serta menumbuhkan harapan; sebab, alangkah sukarnya hidup hanya dengan apa yang diketahui dan apa yang diingat, tanpa apa yang diharapkan!

NamaLabel

+

NamaLabel

+

NamaLabel

Iklan

NamaLabel

+

Menu Atas

Slider

Headline

Jelajahi

  • Jelajahi

    Copyright © LISA
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Sorotan

    Terkini

    Terkini

    Iklan

    Populer Tahun ini

    Iklan

    Iklan

    Terpopuler

    Terpopuler

    Populer Minggu ini

    Populer Bulan ini